Jangan berharap terlalu banyak, maka engkau akan mendapat banyak
Dahulu kala hiduplah seorang pemotong karang yang selalu merasa tidak puas dengan hidupnya. Suatu ketika dia melewati rumah seorang pedagang yang kaya raya. Dia melihat banyak kemewahan dan tamu-tamu penting yang mengunjungi rumah tersebut. Dia menjadi iri hati dan memohon agar dia bisa menjadi seperti pedagang kaya tersebut.
Tiba-tiba keajaiban terjadi, dia mendadak menjadi seorang pedagang yang kaya raya, menikmati kemewahan dan kekuasaan dari yang pernah dia bayangkan. Hingga suatu ketika dia melihat seorang pejabat tinggi yang kebetulan lewat di kotanya, membawa kendaraan yang mewah, ditemani oleh para pelayan dan pengawal-pengawal. Semua orang yang kaya raya sekalipun harus menundukkan kepalanya untuk menghormati pejabat tinngi tersebut. Betapa berkuasanya pejabat tersebut, dia berpikir andaikan saya bisa menjadi seorang pejabat tinggi.
Kemudian dia menjadi seorang pejabat tinggi, bepergian dengan kendaraan mewahnya, ditakuti dan sekaligus dibenci oleh orang-orang disekitarnya. Cuaca hari itu sangat panas, maka pejabat itu merasa tidak nyaman dalam kendaraannya. Dia menatap ke atas melihat matahari. Betapa berkuasanya matahari tersebut, dia berpikir andaikan saya bisa menjadi matahari.
Kemudian dia menjadi matahari, memancarkan panas teriknya ke bumi. Tetapi suatu ketika, sebuah gumpalan awan hitam bergerak dan menutupi pancarannya ke bumi, sehingga sinarnya terhalangi. Betapa berkuasanya awan tersebut, dia berpikir andaikan saya bisa menjadi awan tersebut.
Kemudian dia menjadi awan tersebut, mengakibatkan banjir pada ladang-ladang dan pemukiman penduduk, diteriaki setiap orang. Tiba-tiba dia merasakan bahwa ada kekuatan besar yang mendorongnya, dan dia menyadari bahwa itu adalah angin. Betapa berkuasanya angin itu, dia berpikir andaikan saya bisa menjadi seperti angin tersebut.
Kemudian dia menjadi angin, berhembus kencang sehingga merusak atap perumahan, merubuhkan pohon-pohon, ditakuti sekaligus dibenci oleh semuanya. Tetapi kemudian, dia terhalang oleh sesuatu sehingga laju anginnya terhenti. Bagaimanapun usahanya dia tetap tidak bisa menggerakkan benda tersebut, benda itu sangat besar, sebuah bukit karang. Betapa berkuasanya karang tersebut, dia berpikir andaikan bisa menjadi karang tersebut.
Kemudian dia menjadi karang, lebih kuat dari benda apapun di dunia ini. Tetapi ketika dia berdiri dengan gagahnya, dia mendengar suara palu berdentang di permukaannya yang keras, dia pun berpikir apa yang terjadi? apakah ada yang lebih kuat dari diriku? Kemudian dia melihat dan baru menyadari bahwa bunyi itu berasal dari seorang pemotong karang yang sedang mengikis karang. Dia tertunduk dan melihat kembali peristiwa-peristiwa sebelumnya bahwa dia adalah seorang pemotong karang.
Sumber : Buletin Mahavira Edisi Februari – April 2007
Komentar Josaphat
Kita semua memiliki kelebihan dalam diri kita. Dan kita bahkan tidak menyadarinya. Cerita ini mengingatkan dari semua yang kita cari selama ini, kita akan tiba kembali dari apa yang kita mulai dari awalnya.
Jika saja si pemotong karang tersebut berpikir kembali, dia berasal dari manusia. Kemudian, manusia berubah kembali jadi alam, alam berubah kembali menjadi manusia. Ini bukanlah ambisi manusia, sebuah hidup manusia, hidup dalam sebuah lingkaran.
Kita semua memiliki kemampuan dalam jalan kita masing-masing. Kita semua memiliki tempat kita masing-masing.
Kisah si pemotong karang ini menceritakan pikiran dasar manusia dan visi manusia itu sendiri. Kita melompat dari satu keinginan ke keinginan yang lain, satu kepuasan ke kepuasan yang lain, satu tujuan ke tujuan yang lain, tidak pernah berhenti maupun lelah betapa pun banyaknya, tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah dimilikinya.
Seharusnya dia mengerjakan pekerjaan memotong karangnya dengan baik, sehingga dia bisa mempekerjakan para pemotong karang lainnya kemudian menjadi kaya dan berkuasa.
Rumput tetangga selalu lebih hijau hingga engkau mencapainya cuma masalah pandangan. Kepuasan merupakan pendapat masing-masing. Memilih untuk menghijaukan rumput sendiri lebih baik dari sekedar berharap tanpa mengerjakan apapun.
Kita sering menemukan jalan kita dalam hidup ini, tapi kita lebih banyak memilih untuk menghindarinya.
Jangan berharap terlalu banyak, maka engkau akan mendapat banyak.
